jump to navigation

Benang kusut August 19, 2007

Posted by deltawhiski in manajemen.
trackback

Anda pernah melewati rel kereta di depan stasiun Senen yang melintang Jl. Letjen Suprapto?

Jika Anda sering melintasi Jl. Letjen Suprapto terutama sebelum ada underpass (terowongan) seperti sekarang ini, Anda pasti akan sangat kesal karena pada jam-jam tertentu, palang rel kereta ditutup setiap kurang dari 10 menit sekali sambil membunyikan lonceng teng – teng – teng….

Lebih kesalnya lagi, ternyata kereta apinya sendiri (terkadang hanya lokomotif langsir) lewatnya setelah 3-4 menit palang kereta ditutup. Saya sering kesal dalam hati, mengapa sedemikian parahnya manajemen waktu di PT. KAI. Mengapa tidak di-set waktu yang lebih tepat sehingga pengendara mobil tidak perlu menunggu begitu lama dan kemacetan tidak demikian panjang.

Ternyata kalau diperhatikan lebih teliti, begitu mulai bunyi lonceng teng – teng – teng … pertanda palang kereta hendak ditutup, bus-bus angkutan umum, bajaj, mikrolet dsb tidak ada yang mau berhenti dan masih memaksa melewati rel kereta api. Bahkan kalau didepannya ada mobil yang lebih “nurut”, berhenti begitu mendengar teng – teng – teng, kernet angkutan umum tidak segan-segan turun menggedor mobil dan sambil mencaci maki menyuruh pengemudi mobil didepannya menerobos palang yang belum menutup sempurna.

Sejak mulai lonceng teng – teng – teng sampai palang rel kereta menutup sempurna sehingga semua mobil berhenti paling tidak juga menghabiskan waktu sekitar 3 – 4 menit. Setelah menutup sempurna, semua mobil harus menunggu kereta lewat 3 – 4 menit lagi. Sungguh wasting time.

Jika ada yang harus disalahkan, saya tidak tahu harus mulai dari mana. Yang pasti petugas pintu perlintasan kereta api tidak ingin mengambil resiko menutup palang rel kereta terlalu dekat saat kereta akan lewat. Mengingat demikian banyak kendaraan yang membandel dan tidak nurut, petugas merasa lebih safe memajukan waktu penutupan palang rel kereta.

Bagi pengendara mobil yang sudah paham dengan situasi setempat, pasti juga berpikir kalau palangnya belum menutup sempurna pasti keretanya masih jauh. Bahkan setelah menutup sempurna pun harus menunggu hingga 4 menit lagi, jadi kalau mereka langsung berhenti begitu mendengar lonceng teng – teng – teng berarti total waktu tunggu bisa mencapai 8 menit. Tidak heran kernet bus angkutan umum yang mengejar setoran begitu galak kalau mobil yang didepan berhenti pada saat palang rel kereta belum menutup sempurna.

Akibatnya, yang dirugikan adalah semua pengguna jalan lain, baik yang nurut maupun yang tidak. Jalanan menjadi semakin macet, kemacetan semakin panjang, karena palang rel kereta menutup kelamaan dst.

Di negara kita yang baru merayakan ulang tahun ke 62, terasa banyak hal yang tidak beres, salah urus, atau memang tidak diurus. Yang salah subjeknya atau objeknya ya.

Salah satu contoh yang susah diurus adalah taxi bandara. Bertahun-tahun, sarana transportasi dari “gerbang masuk” ibukota Indonesia ini menjadi cermin betapa amburadulnya manajemen transportasi di Indonesia.

Perilaku sopir taxi yang seenaknya “memeras” penumpang agar bersedia membayar tarif borongan dengan ancaman diturunkan di jalan tol sudah menjadi rahasia umum. Otoritas bandara sebenarnya bukannya tidak tahu. Setidaknya setahun terakhir ini ada segerombolan satpam “berjaga-jaga” di belokan masuk terminal 1 yang berusaha mencegat kalau ada taxi kosong yang mencoba masuk ke jalur keberangkatan / kedatangan dengan tujuan mencari penumpang.

Konon hanya taxi dengan yang dilengkapi stiker “Taxi Bandara” saja yang diperbolehkan menaikkan penumpang, sementar taxi yang tidak dilengkapi dengan stiker hanya boleh mengantar penumpang dan harus segera enyah dari bandara dalam keadaan kosong.

Tetapi pada kenyataannya, sopir taxi non stiker bandara secara terang-terangan mendekati penumpang yang baru keluar dan keadaan ini bukannya tidak diketahui oleh petugas bandara yang bertugas mirip-mirip tukang “timer” taxi resmi yang antri. Entah mengapa mereka tidak berani bertindak tegas. Di satu sudut satpam berusaha mencegat taxi kosong non bandara masuk ke terminal, tetapi di sudut lain satpam lain membiarkan sopir-sopir liar ini mencari penumpang dengan bebas.

Akibatnya taxi resmi bandara, yang entah sudah membayar berapa untuk membeli stiker agar mendapat privilese tempat antrian parkir khusus berkurang rejekinya disabot “teman-teman” sesama sopir taxi (non stiker), kembali mencoba meminta tambahan dari penumpang diluar “surcharge” resmi yang diperbolehkan.

Bagi sebagian orang yang pertama kali datang Jakarta, pengalaman naik taxi bandara resmi maupun tidak resmi bisa menjadi perkenalan dan latihan mental yang cukup baik untuk menghadapi kejamnya hidup di ibukota.

Bagi yang mempunyai pilihan menggunakan mobil pribadi atau mobil perusahaan, tentu saja menjadi pilihan yang lebih nyaman.

Semakin banyak orang menggunakan mobil pribadi, semakin sedikit rejeki bagi sopir taxi. Semakin sulit bagi sopir taxi mengais rejeki dengan baik dan halal, semakin banyak dari mereka yang mencoba “nipu-nipu”. Semakin banyak yang nipu-nipu, semakin orang lebih memilih menggunakan mobil pribadi dst dst.

Hukum Newton III: Ada aksi – ada reaksi

Perilaku pengemudi mobil angkutan umum di Senen memaksa petugas perlintasan rel kereta api untuk mengantisipasi dengan memajukan waktu penutupan palang
rel kereta. Akibatnya penutupan berlangsung jauh lebih lama daripada seharusnya, dan yang menjadi korban adalah semua pengemudi lain. Sudah tidak membedakan mana pengemudi yang bandel, mana pengemudi yang santun.

Dalam banyak kasus, terkadang hubungan sebab dan akibat saling terkait seperti benang kusut.

Masalah transportasi di Jakarta misalnya, karena transportasi umum sangat tidak memadai dan tidak manusiawi, maka orang memilih menggunakan kendaraan pribadi. Karena banyak yang menggunakan kendaraan pribadi, maka jalanan menjadi macet. Karena jalanan menjadi macet, sopir angkutan umum yang mengandalkan hidup dari “kelebihan” setoran, semakin seenaknya berhenti di tempat yang seharusnya tidak boleh jalan dan jalan terus di saat seharusnya berhenti.

Bagi pengambil keputusan, bagaimana mengatasi permasalahan yang sudah menjelma menjadi benang kusut memang tidak pernah mudah. Tidak sekedar butuh kejelian dan kecerdasan, tetapi yang lebih penting adalah keberanian memutus rantai sebab-akibat yang sambung menyambung menjadi benang kusut ini.

Dalam buku Tipping Point karangan Malcolm Gladwell, dikisahkan beberapa contoh bagaimana sesuatu menjadi trend, bagaimana acara televisi tertentu menjadi sedemikian populer, dan menariknya ada kisah bagaimana tingkat kriminalitas di New York suatu ketika tiba-tiba menurun drastis.

Malcolm Gladwell tidak menawarkan sesuatu teori atau proposal tindakan yang besar dan drastis yang harus dilakukan, tetapi justru hanya beberapa tindakan kecil, tindakan kecil yang bisa menular seperti epidemis. Sama seperti sub judul dari buku Tipping Point, How Little Things Can Make a Big Difference. Bagaimana hal-hal kecil bisa membuat perubahan besar.

Membenahi masalah transportasi di Jakarta memang bukan pekerjaan gampang. Yang paling gampang dilakukan memang menyalahkan banyaknya kendaraan pribadi di Jakarta, karena memang betul, kendaraan pribadi di Jakarta kelewat banyak.

Membasmi korupsi di tanah air lebih-lebih tidak gampang. Malah terkesan ada yang mencari pembenaran bahwa korupsi terjadi karena gaji pegawai negeri, gaji polisi, gaji DPR kecil sehingga (tidak apa-apa) mereka korupsi.

Weleh-weleh, kalau begini pemikirannya, kacau negara kita. Kalau tahu bahwa gaji pegawai negeri kecil, gaji polisi kecil, atau gaji DPR kecil, lha ya cari pekerjaan lain yang bisa memberikan gaji lebih besar. Hidup kan memberi pilihan.

Tetapi kita dengan mudah dan kasat mata bisa melihat banyak pejabat negara yang mempunyai gaya hidup yang tidak kalah dengan konglomerat.

Sebenarnya kita masih menaruh harapan pada pemerintah saat ini, dan pemerintah sebenarnya juga sudah mulai take action. Sedikit lebih baik dibanding presiden sebelumnya yang “takut dibilang melanggar HAM” kalau menyeret koruptor ke pengadilan. Lumayanlah, ada sedikit kemajuan.

Ada beberapa kasus-kasus kecil, dan orang-orang “kecil” (= tidak mempunyai backing orang kuat) yang sudah disidangkan. Hanya saja “hal-hal kecil” disini belum membawa “perubahan besar”.

Mengapa?

Karena hukumannya pun “kecil” dan tidak membuat efek jera apalagi shock therapy bagi orang lain.

Masa korupsi miliaran, bahkan puluhan miliar cuma diganjar hukuman 2-3 tahun. Paling sial uang hasil korupsi dikembalikan ke negara dan akan dibebaskan karena “negara tidak dirugikan”😀

Ya, bagaimanapun juga, inilah negeriku tumpah darahku.

Dirgahayu, Merdeka!

Comments»

1. izza - August 25, 2008

bagus kk, tambahin lg donk artikelnya k


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: