jump to navigation

Alam pun tidak bersahabat November 28, 2007

Posted by deltawhiski in general.
trackback

banjir-tol-bandara.jpg

Tiada angin tiada hujan, tol bandara Soekarno-Hatta macet total terendam banjir setinggi setengah meter.

Penyebabnya sepele, air laut pasang….

Padahal, menurut pelajaran ilmu bumi sejak masih kecil, setiap hari air laut mengalami pasang naik dan pasang surut. Hal yang demikian sepele, dan sudah berlangsung sejak bumi ini ada, ternyata bagi pemerintah Indonesia tetap saja gelagapan menghadapinya.

Okelah, mari megambil hikmah positifnya saja.

Kebetulan kemarin seorang teman minta tolong dijemput di bandara, scheduled tiba pukul 17:30. Masih agak santai, saya meninggalkan kantor setelah selesai meeting hampir menjelang 17:30; biasanya pesawat tiba, parkir di apron, menunggu bagasi masih bisa memberi toleransi kurang lebih 30 menit.

Begitu berbelok dari Pluit memasuki tol bandara sudah mulai dihadang macet, “…aahhh biasa, jam pulang kantor”, pikirku dalam hati.

Tetapi macetnya lumayan parah, selang 30 menit belum bergerak lebih dari 100 meter. Bahkan pintu tol masih belum kelihatan, “… hmm, jangan-jangan ada kecelakaan sehingga macet begini”.  Temanku yang sudah landing menelepon, saya berusaha menenangkan dia dan minta dia bersabar. “Sedang di tol, harap sabar ya fren”

Tetapi kemacetan sekali ini benar-benar parah, dan sampai pintu gerbang tol sama sekali tidak ada pemberitahuan apa-apa. Sepanjang perjalanan di tol yang padat merayap nyaris macet total, saya menyempatkan mengintip angka argo beberapa taxi yang kebetulan bersebelahan.  Sebagian besar sudah menunjukkan angka diatas 100 ribu, malah ada yang sudah diatas 200 ribu.

Saya tidak tahu dia itu naiknya dari mana, konon kan argo meter dihitung berdasarkan kilometer berjalan, bukan berdasarkan waktu.

Tetapi yang jelas, wajah stress dan tidak sabaran terlihat sangat jelas. Saya yakin mereka lebih memikirkan resiko ditinggal pesawat daripada masalah biaya taxi yang mungkin segera melampaui harga tiket pesawatnya.

Konon mengemudi di Jakarta adalah tempat yang sangat tepat untuk menguji nyali sekaligus melatih kesabaran, saya sangat setuju keduanya dan ternyata saya cukup terlatih untuk bisa bersabar dan menikmati kemacetan tanpa stress atau emosi sama sekali.

Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah temanku yang sedang menunggu itu cukup sabar. Saya mencoba mengontak beliau setiap kurang lebih 30 menit dengan update yang itu-itu saja, “masih di tol, masih terjebak macet”.

Waktu terus berjalan dan tidak terasa nyaris mendekati pukul 20:00 sementara belum ada tanda-tanda kemacetan semakin berkurang, bahkan pertigaan keluar Kamal saja belum terlihat. “Ah, jangan-jangan ini macet akibat mobil yang ingin keluar Kamal”, batinku dalam hati sambil bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti lagu HouLai dari MP3 transmitter.

Menjelang pertigaan keluar tol Kamal, penyebab kemacetan barulah saya tahu. Dua mobil Jasa Marga yang diparkir di tengah tol menampilkan teks “km 27 tergenang air pasang 40 cm, harap keluar tol Kamal”

Sebenarnya ketinggian air 40 cm saya yakin akan mudah dilewati dengan mobil Kuda saya, tetapi yang saya kuatirkan adalah kalau terjebak di tengah-tengah, misalnya pas di depan ada yang mogok, itu yang celaka.

Masalahnya adalah masih banyak mobil yang memilih terus melintas tol walaupun nyaris tidak bergerak.

Dengan pertimbangan diatas, saya mengambil pilihan mutar saja lewat Citra Garden, melewati jalan Peta Barat dan keluar lagi persis di tol menjelang bandara Soekarno-Hatta.

Singkat cerita, akhirnya saya berhasil juga mencapai bandara, persis pukul 21:00. Waktu tempuh terlama ke bandara dari Grogol yang pernah saya lakukan. Bahkan pada saat banjir besar tahun 2002, pada saat itu harus antar mertua ke bandara tidak sampai selama itu.

Suasana di bandara benar-benar beda dari yang pernah saya lihat, lebih mirip barak penampungan korban bencana alam. Di mana-mana bergerombol orang-orang baik di dalam bandara, di lapangan parkir sampai trotoar jalan. Sayang saya tidak membawa kamera, kalau tidak sempat mengabadikan momen langka seperti ini.

tidakadajemputan.jpg

Para penumpang pesawat yang baru tiba, atau sudah tiba sejak sore tidak bisa meninggalkan bandara karena tidak ada mobil jemputan yang bisa masuk. Taxi juga tidak ada, bis Damri juga tidak ada. Biasanya lintasan bandara yang selalu hiruk pikuk dengan mobil-mobil pengantar, penjemput, taxi, taxi liar kemarin malam benar-benar lengang.

Bisa mencapai bandara adalah satu hal, sekarang mau keluar dari bandara adalah hal lain lagi. Saya kembali harus memilih, apakah kembali lewat tol yang notabene tidak disarankan, malah dipalang dengan mobil polisi atau melewati Jalan Peta Barat yang sekarang nyaris macet total juga akibat semua kendaraan yang dari bandara keluar lewat jalan tersebut.

Dengan mempertimbangkan “pengalaman” menerjang banjir beberapa kali sebelumnya, ditambah satu fakta lain, jalan tol Cengkareng – Jakarta kosong karena semua kendaraan sudah dialihkan; hmm… saya memutuskan menerobos masuk lewat jalan tol saja.

Satu kondisi jalan tol kosong dan lengang sedikit melegakan karena kalau mengendarai mobil dalam kondisi banjir, yang paling penting adalah tetap mempertahankan putaran mesin tinggi dan usahakan jalan terus, jangan sampai berhenti.

Ternyata, memasuki wilayah yang tergenang (km 26 – 27), cukup banyak mobil yang cukup berani memasuki tol tetapi tidak berani meneruskan perjalanan menerjang banjir. Wah, jangan-jangan ini membuat macet ditengah; itu yang paling saya kuatirkan.

Rupanya mobil-mobil yang tidak berani meneruskan perjalanan itu parkir di dua jalur paling kanan, masih ada dua jalur lain di kiri, tetapi itu tempat air menggenang paling tinggi. Informasi dari petugas bisa ketinggian air 60 – 70 cm.

Saya hanya perlu memastikan di depan tidak ada halangan, entah mobil mogok atau lainnya, kebetulan ada sebuah bus Damri yang melintas dan setelah memastikan semuanya aman, saya ikut menerobos dengan yakinnya.

Dan ternyata, everything is fine. Dengan kecepatan yang konstan, menggunakan perseneling 2 dan putaran tetap diatas 2000 rpm, saya menyeberangi banjir sepanjang hampir 2 km.

Wow, sudah lama sekali tidak merasakan “jiwa petualang” seperti ini. Konon mahkluk mars (pria)  memerlukan “keberhasilan-keberhasilan” kecil seperti ini untuk memuaskan egonya, sekaligus mengobati harga dirinya.

Cara paling mudah untuk menjatuhkan dan menyakiti pria adalah dengan mengabaikannya, atau menganggapnya tidak ada atau menganggapnya tidak berarti. Am I right.

Yes, akhirnya perjalanan ke bandara yang menghabiskan waktu 3,5 jam, kembalinya tidak sampai 30 menit saja.

Saya kembali menggunakan sebuah humor yang dikutip dari Mati Ketawa Ala Rusia yang mudah dimodifikasi sebagai berikut:

Deng Xiao Ping bertemu dengan Tuhan dan bertanya,
“Tuhan, kapan negaraku bebas dari bencana banjir”
Tuhan menjawab, “25 tahun lagi”
Deng pun menangis dan berlalu.

Mahatma Gandhi bertemu dengan Tuhan dan bertanya,
“Tuhan, kapan negaraku bebas dari bencana banjir”
Tuhan menjawab, “50 tahun lagi”
Gandhi pun menangis dan berlalu.

Soekarno bertemu dengan Tuhan dan bertanya,
“Tuhan, kapan negaraku bebas dari bencana banjir”
Tuhan pun menangis dan berlalu.

Ternyata tidak sulit buat gubernur untuk mencari penjelasan mengapa Jakarta macet.

Tidak hanya busway, portal, kendaraan umum, kendaraan pribadi saja yang bisa dijadikan kambing hitam; bumi masih berputar pun bisa dijadikan alasan.

Lha, buktinya… cuma gara-gara air pasang saja Jakarta sudah nyaris kelelep.

Comments»

1. Sudah Saatnya Jakarta “Pindah” ? - April 28, 2008

[…] Kredit foto: deltawhiski.wordpress.com/…/ […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: