jump to navigation

Big Boss November 30, 2007

Posted by deltawhiski in filosofi, opinion.
trackback

Siapakah big boss Anda?
Apa yang Anda ketahui mengenai big boss Anda?

Kebanyakan orang bisa menyebutkan bahwa big boss-nya maha pengasih lagi maha penyayang, maha tahu, maha adil, maha pemurah, dan maha-maha lainnya.

Are you sure friend? Big boss yang dimaksud di sini adalah yang Anda sebut Tuhan atau Allah.

Jika Anda yakin Tuhan Anda maha pemurah, maha pengasih dan maha-maha lainnya, mengapa jika ada yang sedang tertimpa musibah dikatakan Tuhan sedang memberi cobaan, Tuhan sedang marah kepadanya.

Jika manusia meyakini Tuhan adalah maha segala-galanya, mengapa Anda perlu “memaksakan” orang lain mengikuti keyakinan atau memeluk agama yang Anda yakini (dalam pernikahan misalnya). Apakah manusia ini menganggap Tuhan kurang kemampuannya “memaksakan” dibanding manusia biasa.

Jika manusia mempercayai Tuhan itu maha tahu, mengapa masih ada manusia yang mencela, memusuhi, bahkan mengucilkan orang lain yang mempunyai cara beribadat yang dianggap berbeda. Jangan-jangan orang demikian meragukan “kemahatahuan” Tuhan sehingga dia yang merasa perlu mendahului Tuhan.

Setiap tindakan yang mengatasnamakan Tuhan atau Allah sangat bisa diartikan penghinaan terhadap kemampuan Tuhan. Mau membela Tuhan; Ha ha ha…, apalah yang bisa dilakukan oleh manusia biasa yang bisa dibandingkan dengan ke-maha-anNya. Tuhan Allah itu sedemikian agung, sedemikian berkuasa, sedemikian bijaksana sehingga tidak perlu dibela pun pasti selalu benar dan menang.

Kalau masih ragu, silakan tanya diri sendiri seberapa mendalam Anda mengenal Tuhan Allah Anda.

Agama, bagi sebagian besar orang-orang jaman sekarang tidak lebih dari sekedar sekumpulan tata cara, tradisi, dan kebiasaan.

Tata cara, tradisi, dan kebiasaan yang seharusnya dipakai untuk “bersyukur” atas kemurahan Tuhan juga sudah bergeser menjadi peraturan, hukum, dogma yang harus ditaati dan dilaksanakan.

Bagi orang-orang demikian, agama bukan lagi menjadi pedoman tentang bagaimana cara berperilaku yang beretika serta penuh kasih terhadap sesama, melainkan agama sudah menjadi sekumpulan pedoman dan patokan mengenai waktu beribadah, bagaimana cara beribadah, pakaian yang pantas untuk beribadah, persembahan sekian persen baru diberkati Tuhan dan sebagainya dan sebagainya.

Memangnya ada Tuhan orang-orang tertentu yang begitu “mata duitan”.

Mungkin dunia ini sudah terlalu tua, dan agama-agama yang bertahan hingga hari ini adalah peninggalan kedatangan Tuhan / Nabi ribuan tahun yang lalu.

Di dalam buku Celestine Prophecy disebutkan, agama tertentu baik dan cocok untuk jamannya.

Bisa jadi memang betul begitu, apakah itu dunia yang sudah terlalu maju atau agama yang sudah terlalu ketinggalan. Tidak mengherankan akhir-akhir ini muncul berbagai aliran kepercayaan dan kebangkitan spiritual baru di berbagai antero dunia. Aliran kepercayaan dan kebangkitan spiritual adalah gaya bahasa yang dipakai karena belum berani meng-klaim diri sebagai agama.

Dalam hal ini Indonesia juga tidak ketinggalan, dalam setahun terakhir muncul beberapa orang yang mengaku nabi, titisan Tuhan, dan sebagainya.

Bagi orang-orang yang memegang teguh keyakinan pada agama lama, kemunculan “balon” (bakal calon) agama baru ini adalah ancaman dan pesan yang paling mudah dihembuskan adalah “aliran sesat” dan ganyang.

Sesungguhnya dalam semua kitab suci agama lama yang masih dipakai hingga saat ini, kejadian yang persis sama juga terjadi pada waktu kelahirannya dulu.

“Kita belajar dari sejarah, bahwa kita tidak pernah belajar apa-apa dari sejarah”.

Terlepas dari benar tidaknya, atau sesat tidaknya pembawa agama baru; kalaupun nantinya ada yang berhasil terus bertahan dan mencuat dan diakui sebagai nabi, paling tidak nama Indonesia sedikit terangkat karena menjadi tanah yang juga bisa melahirkan nabi-nabi.

Sedikit menghibur karena saat ini di mata dunia Indonesia cuma bisa melahirkan koruptor dan badut.

Comments»

1. wars1d1 - January 8, 2009

meski Tuhan itu satu tetapi cara pandang masing2 agama/kepercayaan berbeda sama spt Indonesia meski banyak suku tetapi tetap satu, masalahnya apakah adat istiadat 1 suku dengan yg lain mau diseragamkan? tentu tidak, demikian juga dgn agama, kenapa mesti satu agama dalam perkawinan? kuncinya ya supaya satu, tetapi bila berbedapun apabila saling memahami toh tdk menjadi masalah. Hidup Indonesia !!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: