jump to navigation

Reward and Punishment June 10, 2008

Posted by deltawhiski in bbm, general, manajemen.
trackback

Pemerintah Indonesia entah mengapa mmpunyai pendekatan yang berlawanan dari pakem yang sudah berlaku universal ini. Contohnya dalam kasus BLT (Bantuan Langsung Tunai). Mari kita simak pesan yang disampaikan oleh pemerintah dalam berbagai media ketika mencari “pembenaran” dan dukungan menaikkan harga BBM.

“…Sebagian besar subsidi BBM mengalir ke orang kaya…”
“…Apa kita ingin terus mensubsidi orang kaya….”
“…Daripada mensubsidi BBM, pemerintah akan mensubsidi orang miskin…”
“…Jangan kuatir, yang paling berdampak akibat kenaikan BBM adalah orang kaya. Kita orang miskin malah akan diuntungkan karena akan mendapat BLT…”
“…Pemerintah akan mengalihkan subsidi BBM ke subsidi pelayanan kesehatan, pendidikan bagi orang miskin…”
“…BLT bukti pemerintah memperhatikan nasib rakyat miskin…”
dan sebagainya.

Seorang atasan, pengambil keputusan biasanya dibekali dengan 2 kartu truf untuk dimainkan. Tujuannya agar bawahan akan “nurut” sesuai arah yang dikehendaki. Dua kartu ini yaitu Reward and Punishment.

Contoh, agar karyawan bersedia kerja lembur, maka atasan menjanjikan gaji lembur yang lebih besar, dibarengi dengan bonus tertentu kalau tenggat waktu bisa dikejar.

Hubungan B2B (business to business) juga banyak dilibatkan reward and punishment. Kalau customer bersedia membayar lebih cepat sebelum jatuh tempo, diberikan potongan tertentu. Sebaliknya kalau telat, diberikan sanksi harga lebih mahal sampai menyetop supply barang.

Pada dasarnya semua orang, tidak terkecuali, bergerak mendekati pleasure dan menjauhi pain.

Message yang disampaikan, baik oleh pejabat pemerintah dalam berbagai pidato yang diliput media massa maupun iklan layanan masyarakat sangat jelas, MISKIN adalah prestasi yang akan di-reward pemerintah. Pemerintah akan selalu berdiri disisi si-miskin. Sementar si KAYA adalah pihak yang harus digebuki. Si-kaya digambarkan seakan-akan menggerogoti hak si-miskin dan itulah mengapa si-kaya harus dihukum karena dia kaya.

Itulah mengapa di Indonesia selalu menyimpan potensi “bom waktu” kerusuhan sosial.

Itulah mengapa rakyat Indonesia harus menunggu beberapa generasi lagi agar bisa sejahtera, adil dan makmur. Generasi sekarang dan satu generasi berikutnya sudah diracun oleh pemerintah bahwa MISKIN itu prestasi dan akan mendapat reward, sementara KAYA itu adalah dosa dan pantas mendapat hukuman.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: