jump to navigation

Broken Windows, Broken Business July 10, 2008

Posted by deltawhiski in books, manajemen.
trackback

Ketika kedua menara kembar WTC di New York City diluluhlantakkan oleh serangan teroris, muncul seorang pahlawan. Dia bernama Rudy Giuliani, walikota New York City.

Kebanyakan dari kita tidak pernah mendengar namanya sebelum tahun 2001, apalagi mengenalnya. Tetapi, dia hanya seorang walikota. Liputan pers terhadapnya paling-paling untuk konsumsi penduduk lokal atau paling-paling sesekali muncul ke panggung nasional Amerika Serikat. Tetapi begitu menara kembar WTC diserang teroris, orang yang mendapat liputan internasional paling banyak adalah Rudy Giuliani. Majalah Time menganugerahi pria ini “Person of The Year” pada tahun tersebut.

Luput dari perhatian banyak orang sebelumnya, Rudy Giuliani pada tahun 1980-an adalah jaksa penuntut yang sarat prestasi. Prestasi paling luar biasa adalah ketika Rudy berhasil meringkus lima “keluarga” mafia sekaligus dan mengirim mereka semua ke penjara dengan total hukuman ratusan tahun penjara. Pada saat mereka berhasil meringkus mafia yang terkenal licin seperti ular, dia mengatakan, “… hari ini kita membuktikan bahwa organisasi kejaksaan, FBI, dan kepolisian kita lebih baik dari organisasi mafia…”

Pada tahun 1993 Rudy Giuliani terpilih menjadi walikota New York City. Salah satu prestasi terbaik selama periode menjabat sebagai walikota sejak 1993 – 2002 adalah tingkat kriminalitas di kota New York turun 50% dari sebelumnya. Pendekatan yang dilakukan Rudy Giuliani adalah mengacu pada teori “Broken Windows”.

Broken Windows menyebutkan jika di sebuah bangunan ada satu jendela yang pecah, dan ini dibiarkan tidak diperbaiki, ini memberi sinyal bagi orang lain boleh memecahkan beberapa jendela lain. Dan segera kemudian orang-orang bukan hanya memecahkan jendela, melainkan akan menyebabkan kehancuran bangunannya sekalian.

Rudy meyakini bahwa akar dari krimnal adalah “ketidakteraturan”. Dan apa yang dilakukan oleh kepolisian New York (NYPD) di bawah kepemimpinan Rudy adalah mulai dari hal-hal yang kecil, misalnya membersihkan cat dan coretan-coretan para berandalan di kereta api bawah tanah (subway). Begitu besoknya para berandalan melakukan coret-coret lagi, perusahaan subway segera mengandangkan kereta tersebut dan dicat ulang lagi. Mereka setiap hari hanya menjalankan kereta yang bersih dan mulus.

Mungkin hal ini juga bisa menjelaskan, mengapa perilaku orang-orang di Indonesia kalau pergi ke Singapura tidak berani sembarangan menyeberang jalan, tidak berani sembarangan membuang sampah, meludah, dan sebagainya. Kalau mereka nyetir mobil di Jakarta ugal-ugalan dan tidak mau mengalah, orang yang sama begitu nyetir di Singapura kok tiba-tiba jadi sangat teratur.

Teori “Broken Windows” ini ditulis ulang oleh Michael Levine untuk konsumsi eksekutif dan pebisnis lewat bukunya “Broken Windows, Broken Business“. Keteraturan tidak hanya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam kehidupan perusahaan. Bagi perusahaan, penerima telepon yang tidak ramah, meja yang tidak bersih, barang-barang yang tidak diletakkan ditempat semestinya sehingga pelanggan tidak bisa menemukannya, itulah Broken Windows-nya.

If you run a business, and you truly believe that little things don’t make difference, you really should read this book – it may save your business.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: