jump to navigation

Golput, siapa takut April 13, 2009

Posted by deltawhiski in general, manajemen, opinion.
trackback

Pemilu legislatif 9 April telah selesai, pesta demokrasi babak pertama telah usai. Tetapi masih banyak yang deg deg-an, ada juga yang sudah pasrah, dan tidak sedikit juga yang siap-siap hijrah ke RSJ.

quickcount1

Beberapa catatan penulis mengenai Pemilu legislatif tersebut:

1. Kesadaran warga untuk menggunakan hak pilih meningkat.

Terutama jika dibandingkan dengan pemilu masa ORBA, sebagian besar warga (terutama di TPS penulis berada) mendatangi TPS dengan sukarela dan sukacita ingin memanfaatkan hak mereka sebagai warga negara tanpa paksaan dan tekanan. Sayang sekali sekali ini KPU telah mencederai keinginan warga dengan menerbitkan DPT yang asal-asalan. Sangat banyak warga yang ingin mencontreng pulang dengan kecewa karena tidak menemukan nama mereka di DPT.

2. Kinerja KPU terutama soal DPT SANGAT BURUK.

KPU yang digaji oleh pemerintah dari pajak yang dibayar rakyat ternyata lebih suka ngurusin proyek-proyek dan sosialisasi keluar negeri ketimbang melayani rakyat Indonesia dengan baik.
Bayangkan saja, undangan pemilu yang akan dilangsungkan pada tanggal 9 April baru diserahkan kepada KPPS untuk ditandatangani pada Hari Senin, 5 April dan baru sempat didistribusikan pada tanggal 6 – 7 April, kurang dari 100 jam menuju hari H. Warga yang tidak menerima undangan dipersilakan melihat sendiri apakah namanya tertera di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Dari manakah KPU membuat DPT, hanya Tuhanlah yang tahu karena DPT yang dikeluarkan oleh KPU berbeda dengan data kependudukan di kelurahan setempat. Jika ada yang senang dengan meningkatnya golput, jangan lupa memberikan golput award kepada KPU.

3. Partai politik berhasil “memerdaya” caleg-calegnya

Pada pemilu-pemilu sebelumnya, partai politiklah yang harus membiayai sendiri semua kampanye-kampanye politiknya. Pemilu 2009 pertama kali partai politik bisa lepas tangan dan menyerahkan semuanya kepada caleg-calegnya untuk membiayai sendiri kampanye mereka. Ada sebagian caleg masih merasa begitu bangga dan hebat hanya karena telah “berhasil” menjadi caleg. Dalam beberapa hari kedepan akan segera ketahuan apakah hebat beneran atau benar pecundang.

4. Masyarakat memilih partai politik, bukan nama caleg.

Menyambung poin nomor 3, dimana partai politik tidak merasa perlu membiayai sendiri kampanyenya karena caleg-calegnya sudah melakukan itu secara swadaya, tetapi bagaimana dengan hasilnya. Referensi pertama masyarakat pemilih tetap partai politik, bukan nama calegnya.
Contoh (hasil di TPS penulis), bagaimana mungkin seorang Adang Daradjatun, caleg DPR dari PKS yang hanya kalah tipis dari Fauzi Bowo dalam Pilkada Propinsi DKI tahun lalu, dalam pemilu legislatif kemarin perolehan suaranya masih kalah dari hampir semua caleg dari Partai Demokrat. Padahal, nama-nama caleg dari PD bisa dipastikan bagi sebagian besar pemilih masih asing atau malah sama sekali tidak dikenal. Jadi keberhasilan caleg-caleg PD meraup suara bukan karena kehebatan mereka, hanya kebetulan saja mereka ada di kendaraan yang sedang digandrungi oleh pemilih. Demikian juga seorang Adang tidak berhasil meraup suara bukan karena kurang berkualitas, kebetulan saja kendaraan yang ditumpangi Adang kalah populer. Pintar-pintar milih kendaraan mungkin nasihat yang baik buat caleg-caleg yad.

5. Siap menang tetapi belum siap kalah.

Kita merindukan demokrasi ala barat, contoh yang paling anyar adalah pemilu presiden di Amerika Serikat. Begitu Barrack Obama memastikan memenangkan pemilu, dengan segera John Mc Cain menelepon dan mengucapkan selamat walaupun penghitungan suara belum final. Demikian juga dalam pemilihan pendahuluan dimana Barrack Obama bersaing ketat dengan Hillary Clinton, begitu Hillary mengetahui posisinya kalah, beliau dengan segera dan bersungguh-sungguh, bahkan dibantu oleh Bill Clinton melakukan berbagai upaya untuk mendukung Barrack Obama.
Di sini, huaau…. huaauu….
Salah satu partai politik yang (tanpa malu) “mencomot” video klip Obama dalam iklannya malah langsung menuding lembaga survey yang melakukan quick count “bisa dibayar”. Bagaimana mungkin yang bersangkutan begitu yakin dan dengan cepat bisa mengambil kesimpulan demikian, jangan-jangan yang bersangkutan pernah dan berpengalaman “membayar” dan memberikan “order” sejenis. Dalam pemberitaan di media beberapa bulan sebelum pemilu, memang ada beberapa survey yang menempatkan partai pendatang baru tertentu pada peringkat yang cukup mengejutkan, langsung menyodok ke 5 besar. Apakah hasil survey tersebut memang “tailored” dengan bayaran tertentu untuk mempengaruhi opini publik, kembali hanya Tuhan yang tahu.

6. Golput TIDAK mengurangi legitimasi pemerintah.

Dengan segala kesemrawutan yang diakibatkan oleh kerja KPU, sepak terjang kekanak-kanakan partai politik dan caleg-calegnya, tidak terhindarkan angka golput tetap tinggi. Namun apakah tingginya angka golput mengurangi legitimasi pemerintah terpilih?
Sama sekali tidak.
Penjelasannya begini. Bagaimana mungkin lembaga survey yang menyelenggarakan quick count bisa menghasilkan penghitungan cepat kurang dari 2×24 jam dengan mendapatkan hasil yang sangat mendekati keadaan real.
Ilmu statistik jawabannya. Ilmu statistik memanfaatkan homogenitas (kesamaan) dalam sekumpulan populasi tertentu.  Untuk memperkirakan perilaku dalam kelompok tertentu, cukup hanya menggunakan sejumlah kecil sampling yang diambil dari populasi tersebut. Ilmu statistik ini telah sedemikian sukses diterapkan dalam bidang manajemen produksi, manajemen pemasaran dalam industri manufaktur untuk waktu yang lama. Menggunakan prinsip yang sama, lembaga survey bisa memperkirakan hasil akhir pemilu dengan hanya mengambil sekian persen sampling dari sekian banyak TPS yang ada. Anda boleh percaya boleh tidak, seperti yang sudah berkali-kali terbukti sebelumnya, hasil quick count tidak akan berbeda jauh dengan hasil real count yang memakan waktu dan biaya berkali-kali lipat. Demikian juga, jika ada yang berhasil membuat golput tidak ada sama sekali, yakinlah kawan…, hasilnya kurang lebih tetap seperti ini juga.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: