jump to navigation

Hanya masalah kesetaraan September 18, 2009

Posted by deltawhiski in books, feeling, opinion.
trackback

Seorang teman tiba-tiba bertanya, “Apakah Anda iri dengan (kesuksesan dan kekayaan) Bill Gates?”

“Tentu saja tidak, malah dia salah satu idola saya”

Friends,
“Apakah Anda iri dengan Ratu Elizabeth?”
“Apakah Anda iri dengan Lady Di?”
“Apakah Anda iri dengan Andy Lau?”
“Apakah Anda iri dengan Cristiano Ronaldo?”

Jika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis ini kepada kebanyakan “orang biasa”, hampir bisa dipastikan kebanyakan akan menjawab TIDAK. Mungkin banyak yang seperti saya malah menjadikan mereka-mereka yang super sukses, super kaya, super cantik, super beruntung sebagai idola.

Hmm, tetapi pernahkah Anda iri dengan teman sekolah Anda yang lebih pintar dari Anda; Apakah Anda pernah iri dengan teman kantor yang gajinya lebih tinggi dari Anda; Apakah Anda pernah iri dengan teman main yang suaminya lebih kaya dari suami Anda dsb?

Almost everbody does.

Hmm, iri adalah sifat “turunan” yang melekat pada semua orang. Kita dengan mudah bisa mengamati sejak kecil saja anak-anak sudah menunjukkan sifat iri terhadap kakak, adik, teman dan sebagainya.

Tetapi sumber rasa iri sesungguhnya adalah “kesetaraan”, dan iri adalah salah satu sumber “ketidakbahagiaan” yang paling utama.

Saya tidak iri terhadap Bill Gates karena tahu Bill Gates “tidak setara” dengan saya. Anda tidak iri terhadap Yao Ming karena tahu Anda “tidak setara” dengan dia.

Sebagian dari kita pernah iri dengan teman sekolah yang lebih pintar karena menyadari mereka “setara” dengan kita dan seharusnya kita juga tidak kalah dari mereka. Kita pernah iri terhadap tetangga karena beranggapan kita “setara” dengan mereka dan seharusnya kita tidak kalah dari mereka. Kita iri dengan orang lain yang mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan karena tahu bahwa kita setara dengan mereka dan kita bisa lebih baik dari mereka yang kita anggap lebih sukses atau lebih beruntung.

Namun meniadakan kesetaraan sama dengan merendahkan (asumsi) kualitas kita sendiri. Tidak banyak orang bersedia merendahkan kualitas diri sendiri.

Kalau tidak bersedia merendahkan kualitas diri sendiri, tingkatkanlah kalau bisa. Buatlah “kompetitor” Anda, kompetisi dengan orang yang Anda iri menjadi tidak relevan. Mengatakan jauh lebih mudah daripada mempraktekkan.

Menyadari hal tersebut, saya teringat sepotong kalimat yang sering diucapkan seorang teman,

Don’t think so hard and
Don’t hope so much
Take it easy,
Life will be okay

“Anda punya tips lain?”

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: